KEWIRAUSAHAAN

A.           Pengertian 

Wirausaha adalah  orang yang pandai atau berbakat mengenali prodsuk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk mengadakan produk baru, mengatur permodalan operasi dan memasarkannya.

B.           Ciri-ciri Wirausaha 

Ciri-ciri wirausaha antara lain sebagai berikut :

1.            Berjiwa keras dalam bekerja
2.            Mandiri
3.            Cerdas dalam menciptakan dan meraih peluang bisnis
4.            Jujur, hemat dan disiplin
5.            Mampu berfikir dan bertindak bijak
6.            Tangguh dan berani mengambil resiko
7.            Kreatif dan produkstif
8.            Inovatif
9.            Berperilaku antisipatif terhadap perubahan dan akomodatif terhadap  
         lingkungannya
10.        Bersifat melayani pelanggan untuk memuhi kepuasannya.

C.           Prasyarat Wirausaha 

Untuk menjadi seorang wirausaha ada beberapa prasyarat yang harus dipenuhi antara lain :

1.            Memiliki kemampuan modal yang kuat untuk berkarya dengan semangat
         kemandiriannya
2.            Mampu memecahkan masalah dalam amengambil keputusan
3.            Memiliki keberanian mengambil resiko
4.            Mempunyai keingan yang kuat untuk belajar, dan bertindak inovatif kreatif.
5.            Bekerja keras, tekun dan teliti dan tidak pernah merasa puas
6.            Mampu menghasilkan karya baru yang berlandaskan etika bisnis yang sehat.

D.           Bidang-bidang kewirausahaan

1.            Sektor Formal 

Sektor formal adalah laapangan usaha yang secara sah terdaftar dan mendapat izin dari pejabat berwenang. Kegiatannya terhimpun dalam bentuk badan usaha seperti BUMN, BUMS atau koperasi. 

Ciri-ciri sektor formal :

  1. adanya izin mendirikan usaha dari pemerntah
  2. modal yang dibutuhkan relatif besar
  3. kewajiban membayar pajak
  4. perolehan laba relatif besar
  5. kegiatan usaha lebih banyak terpusat dikota-kota

Contoh usaha sektor ekonomi formal antara lain :

1.            Perbankan
2.            Transportasi
3.            Retail
4.            Distrikbusi
5.            Komunikasi
6.            Properti

2.            Sektor informal 

Sektor informal yaitu sektor ekonomi yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan pada umumnya tidak memiliki izin.

Ciri-ciri sektor informal :

  1. tidak memiliki izin usaha
  2. modal yang diperlukan relatif kecil
  3. peralatan yang digumakan sederhana
  4. tidak terkena pungutn pajak
  5. pengadministrasian sangat sederhana

Contoh usaha sektor ekonomi informal :  warung makan, pedagang kaki lima, salon kecantikan, biro jasa pengetikan.

Dipublikasi di Modul Ekonomi | Tag | 7 Komentar

Manajemen

manajemen.ppt

Dipublikasi di Modul Ekonomi | Meninggalkan komentar

MANAJEMEN

Kompetensi Dasar : Memahami konsep manajemen

1. Pengertian

Manajemen adalah proses peencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, pegendalian enggunaan sumebr daya manusia secara efektif dan efisien untuk tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.

2. Tingkat manajemen

    a. Manajemen Puncak (Top Manajemen)

      Manajemen puncak merupakan jenjang yang paling tinggi atau pucuk pimpinan yang bertugas untuk memutuskan hal-hal penting sifatnya bagi kelangsungan hidup perusahaan.

      b. Manajemen Menengah (Middle Manajemen)

      Manajemen menengah biasanya tediri atas kepala-kepala divisi yang bertugas mengembangkan rencana-rencana operasi dan melaksanakan keputusan yang telah ditetapkan oleh manajemen puncak dan bertanggung jawab kepada manejemn puncak.

      c. Manajemen Pelaksana (Low Manajemen/Supervisory Manajemen)

        Manajemen yang paling bawah yang bertugas menjalankan rencana-rencana dan keputusan yang telah diambil oleh manajemn menengah.

        3. Fungsi Manajemen

          Ada beberapa pendapat mengenai fungsi manajemen antara lain :

          a. George R. Terry membagi fungsi manajemen menjadi planning, organizing, actuating, dan controlling.

          b. Henry fayol membagi fungsi manajemen terdiri atas planning, organizing, commanding, coordinating dan controlling.

          c. Harold Koontz membagi fungsi manajemen terdiri atas; planning, organizing, staffing, directing dan controlling.

          Planning (Perencanaan)

          Perencanaan merupakan dasar dari semua fungsi manajemen yang paling mutlak. Perencanaan adalah pedoman dan penuntun arah kegiatan yang dibuat pada saat sekarang dan dilaksnakan pada masa datang. Perncanaan dibuat sebagai pedoman baku untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

          Organizing (Pengorganisasian)

          Pengorganisasian adalah sekelompok orang yang bekerja sama dengan menetapkan tugas, fungsi, wewenang dan tanggung jawab masing-masing untuk menccapai tujuan.

          Actuating (Pelaksanaan)

          Pelaksanaan adalah suatu bentuk usaha untuk menggerakkan orang agar bekerja sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Fungsi manajemen yang satu ini akan berjalan baik bila pegawai diberi motivasi untuk meningkatkan prestasinya.

          Controlling (Pengawasan)

          Pengawasan merupakan fungsi manajemen yang penting sebagai sarana menemukan umpan balik atas rencana yang telah dilaksanakan. Pengawasan dilakukan untuk mengukur hasil kerja, membandingkan hasil kerja yang telah dicapai dengan standar yang telah ditetapkan dan melakukan koreksi atas hasil kerja yang telah dicapai.

          Dipublikasi di Modul Ekonomi | 2 Komentar

          Bank Sentral

          Presentasi Bank Sentral

          Dipublikasi di Modul Ekonomi | Meninggalkan komentar

          Mudik

          Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar ………….

          Alunan merdu suara adzan seorang muadzin membuat Arman tersadar dari tidurnya yang melenakan. Meski begitu, ia belum juga mampu bergerak dari tidur panjangnya. Ia masih bermimpi. Sayup-sayup masih ia dengar suara orang-orang terdekatnya, Linda, istri yang telah menemaninya selama lebih dari 20 tahun, sejak ia dan Linda menikah selepas SMA di Jakarta. Linda duduk di atas tikar penuh kenangan, diam membisu hanya sesekali melirik kekiri dan kekanan, setelah itu kembali tertunduk.

          Arlin, anak tunggalnya yang beranjak remaja bersandar dipundak ibunya. Dia memang sangat dekat dengan sang ibu. Linda seolah menjadi sahabatnya, bukan ibu. curhat-curhatan, main basket di halaman rumah atau terkadang masak bersama jika ada luang waktu. Sebesar itu, Arlin masih sering minta ditemani tidur oleh Linda.

          Arman, juga mendengar alunan ayat-ayat alqur’an dilantunkan oleh seorang lelaki muda. Samar ia mengenali wajahnya, entah dimana ia pernah bertemu. Tetapi mengapa lelaki muda itu ada dirumahnya?

          Entah apa yang ad dibenaknya, Arman sendiri masih gamang, dirumahnya yang tidak terlalu besar, juga tidak terlalu sederhana, namun asri, kini banyak orang yang berkumpul. Sepertinya hari ini ada kendurian. Tetap saja ia tak mengerti, bingung. Ia berusaha untuk bangun dari tidurnya, namun tubuhnya sulit untuk digerakkan. Ia coba berusaha memanggil Linda yang sedang duduk termenung sedih, sembab matanya akibat menangis. namun tak satupun kata mampu ia ucapkan. Ya, Allah…ada apa ini? arman jadi bertanya-tanya sendiri. Mengapa aku tidak mampu bergerak dan bersuara, sementara orang-orang disekelilingnya tidak memperdulikan dirinya, sibuk sendiri-sendiri.

          Matahari, sudah hampir sepenggalan, Arman melirik jam dinding angka sudah menunjukkan pukul 11.00. Entah apa yang terjadi, Arman merasakan dirinya seperti terjerembab dalam gua yang begitu dalam dan gelap, tak sedikitpun cahaya. Ia mencoba kembali memanggil Linda, tapi yang terdengar pantulan suaranya sendiri. Ia tidak lagi mendengar meski samar, suara orang-orang yang tadi membaca qur’an, mengobrol sambil merokok, atau suara merdu Linda mendendangkan kesedingan tak terperi.

          Tiba-tiba terdengar salam dari seseorang…

          Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ya Arman …..! dengan suara amat berwibawa. Seperti suara ustadz Hafidz, guru mengaji Linda dan Arlin.

          Arman, tidak menjawab karena ia masih terkejut. Dikegelapan seperti ini ternyata masih ada orang lain. Mungkinkah ia juga terkurung, seperti aku…? Kembali Arman bertanya sendiri.

          Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, ya Arman…! kembali suara itu menyapa, kali ini lebih keras dai sebelumnya.

          Arman gelagapan, dan menjawab terbata, ketakutan….

          Walaikum sa…sa..salam….!!! Siapakah anda…? Boleh aku melihat wajahmu….., pinta Arman penasaran.

          Saat lelaki itu menampakkan wajahnya, pucat pasi wajah Arman, gemetar tubuhnya, keringat sebesar biji jagung keluar deras dari pori-pori kulitnya. Seketika itu juga Arman berteriak histeris…………

          Mas Arman ……!!! Linda mengguncang-guncangkan tubuh suaminya. Arman membelalakkan matanya, namun istrinya terus saja mengguncang-guncangkan tubuhnya, memeluk erat sambil menangis histeris. Begitu juga Arlin, memanggil-manggil namanya, menangis sendu.

          Disampingnya berdiri seseorang dengan wajah aneh, belum sekalipun ia melihatnya. Menakutkan.

          Lelaki itu, berkata tegas : “Selamat datang dikampung halaman, Arman!”

          Dipublikasi di Uncategorized | Tag | Meninggalkan komentar

          Mengapa Harus Alqur’an

           

          koran.jpg

          Bukan pertanyaan yang aneh bila muallaf bertanya, “Kenapa kami harus memulai dengan membaca Al-Quran? Kenapa Al-Quran, bukan yang lain?”

          Hal ini mungkin pernah kita alami, atau kita dengar, ketika ada orang yang menyarankan membaca Al-Quran, terutama terjemahannya, terkait pertanyaan tentang Islam, tentang Jalan yang Lurus, tentang Kebenaran yang Hakiki, tentang Keselamatan nan Sejati, dan sejenisnya. Ataupun issue dan pertanyaan besar dalam hidup manusia, semisal asal-usul manusia, tujuan hidup manusia, hakikat hidup, akhirat, dan sebagainya.

          Sungguh benarlah orang yang menyarankan kepada kita untuk membaca Al-Quran ketika kita menanyakan atau ingin mencari tahu mengenai hal-hal di atas: Islam, Jalan Lurus, Kebenaran Hakiki, Keselamatan Sejati, dan sejenisnya; Juga issue dan pertanyaan besar dalam hidup manusia.

          Mencari tahu jawaban dari pertanyaan di atas bukan dengan cara: mendengarkan `katanya` dari orang-orang tertentu; melihat prilaku orang yang mengaku menganut agama tersebut belaka; atau membaca `ulasan dan komentar` dari para komentator, kritikus agama dan ahli filsafat; atau juga dengan membaca kitab-kitab agama yang lain. Sekali lagi bukan!!!

          Jika kita bertanya hal-hal di atas, kemudian dikaitkan dengan konteks Islam, maka secara otomatis Al-Quran adalah muara jawabannya.

          Kenapa? Mengapa? Biarkanlah Al-Quran sendiri yang menjawabnya, karena Kitab ini bisa berbicara – berkomunikasi dengan kita, dengan catatan tentu jika kita mau dan membiarkan diri kita untuk mendengarnya, membacanya, dan merenunginya.

          Sungguh penulis sudah dan cukup sering membaca beberapa Kitab Suci dari berbagai agama, terutama Al-Quran dan Bible (Perjanjian Lama yang sering disandingkan dengan Taurat, dan Perjanjian Baru yang sering disandingkan dengan Injil).

          Penulis pernah berprilaku seolah-olah sebagai orang yang tidak mempunyai agama, memulai dari nol, mengosongkan pikiran dari ajaran-ajaran agama. Lalu penulis membaca dan membandingkan berbagai Kitab Suci tanpa praduga tertentu, dan tanpa orientasi tertentu, kecuali ingin membaca dan memahami saja.

          Jujur saja, Kitab Suci agama lain cukup bagus dan berisi, mengandung hikmah dan pelajaran yang berguna. Namun juga perlu dicermati ada beberapa hal prinsipil yang agak sulit dipahami oleh orang umum. (Penulis tidak mau membahas dan mendebat masalah orisinalitas kesucian, kevalidan wahyu, dan kesempurnaan dari Kitab-kitab tersebut)

          Tetapi lain dengan Al-Quran. Al-Quran, sungguh menakjubkan Kitab ini!

          Sehingga tak heran makhluk yang akrab dengan keajaiban dan menguasainya – Jin, ternyata terpesona pula oleh daya tarik Al-Quran. Sungguh menakjubkan! Jika Jin yang alamnya adalah keajaiban saja tertarik dengan Keajaiban Al-Quran, apalah lagi artinya penulis yang manusia biasa.

          Sungguh Firman Allah dalam menerangkan hal ini dengan begitu menyentuh kalbu:

          Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan,

          (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami (QS 72:1-2)

          Sungguh tiada yang setanding dan sebanding dengannya. Sungguh sempurna Al-Quran ini!

          Tiada dusta, dan hanya kebenaran serta kesempurnaan yang terlihat padanya, dan sungguh benar pernyataan Al-Quran itu sendiri!

          Alif, laam, raa. (Surat) ini adalah (sebagian dari) ayat-ayat Al-Kitab (yang sempurna), yaitu (ayat-ayat) Al Quran yang memberi penjelasan. (QS 15:99)

          (Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (QS 14:52)

          Kenapa, dan Mengapa membaca Al-Quran untuk mencari kebenaran dan keselamatan serta jalan yang lurus? Banyak alasan yang penulis temukan dalam berdialog dengan ayat-ayat Al-Quran.

          Berikut ini hanyalah setitik hikmah – alasan-alasan, yang penulis coba berbagi dengan saudara-saudaraku dan rekan-rekanku sekalian.

          Pertama, Al-Quran `di desain untuk dimudahkan` guna diingat dan dipelajari oleh siapapun. Mengandung hikmah untuk siapapun. Pengajaran bagi manusia.

          Segala hal-hal prinsipil dan hikmah yang diterangkan oleh Al-Quran dimudahkan untuk diingat dan dipelajari. Kadar kemudahannya jauh melebihi Kitab-kitab suci yang lain.

          Hal ini ditegaskan empat (4) kali dalam surat yang sama:

          Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (QS 54:17,22,32, 40)

          Juga terdapat ayat-ayat senada yang menguatkan hal ini, yaitu bahwa Al-Quran penuh hikmah.
          Alif laam raa. Inilah ayat-ayat Al Quran yang mengandung hikmah (QS 10:1)
          Yaa Siiin. Demi Al Quran yang penuh hikmah (QS 36:1-2)
          Keterangan ini juga termaktub dalam QS 43:3-4, QS 19:97, QS 31:1-3.

          Al-Quran adalah pengajaran bagi manusia, khususnya bagi orang-orang yang berakal, yang mau berpikir dan merenunginya.

          Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS 12:111)

          Dan demikianlah Kami menurunkan Al Quran dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali, di dalamnya sebahagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau (agar) Al Quran itu menimbulkan pengajaran bagi mereka. (QS 20:113)

          Kemudahan ini dapat dilihat dari cara Al-Quran diturunkan dan diajarkan kepada manusia. Diturunkan secara berangsur-angsur, bagian per bagian, disesuaikan dengan konteks atau latar belakang tertentu, tetapi mempunyai hikmah dan arti pembelajaran serta pengajaran yang universal. Al-Quran seolah berdialog dengan kita, menjawab semua tantangan dan pertanyaan yang diajukan kepadanya.

          Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Quran kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. (QS 76:23)

          Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (QS 17:106)

          Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).

          Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya. (QS 25:32-33)

          Kemudahan ini juga ditunjang dengan banyaknya perumpamaan dan contoh yang memudahkan manusia memahami prinsip-prinsip yang terkandung dalam Kalam Allah. Sehingga sangat teranglah kebenaran dan keindahan Al-Quran.

          Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran.

          (Ialah) Al Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa. (QS 39:27-28)

          Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

          Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis) , Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan- perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS 24:34-35)

          Simak juga QS 59:21, QS 17:89, QS 18:54, QS 30:58.

          Bahkan pembelajaran dalam Al-Quran pun diberikan dalam bentuk diceritakannya kisah-kisah, terutama kisah umat terdahulu. Dan kisah-kisah yang diceritakan adalah kisah-kisah pilihan yang terbaik bagi manusia untuk dipelajari.

          Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Quran) yang nyata (dari Allah).

          Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.

          Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui. (QS 12:1-3)

          Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS 12:111)

          Silahkan bandingkan Al-Quran dengan kitab-kitab agama lain secara jujur dan obyektif, niscaya kau akan condong kepada Al-Quran!!!

          Kalimatnya ringkas dan padat, mudah dimengerti dan mengena, komunikatif, membuat kita berdialog langsung dengan Allah melalui Kitab-Nya! Kitab Al-Quran salah satu Kitab Suci teringkas yang pernah dikenal manusia, namun kegiatan pembelajaran dan pengajarannya jauh melebihi kitab-kitab yang lain.

          Perumpamaan dan prinsip-prinsip ajarannya mudah dipahami dan bersifat universal, lintas suku, lintas budaya, lintas zaman!! Tiada perlu menjadi orang Arab abad 6 Masehi untuk mengerti perumpamaan yang diterangkan dalam Al-Quran. Tapi mungkin perlu menjadi orang-orang di generasi di mana Kitab-kitab selain Al-Quran muncul, guna memahami prinsip-prinsip ajaran dan perumpamaannya.

          Kisahnya adalah kisah pilihan dan yang terbaik!! Menakjubkan dan penuh hikmah, tiada mengandung cela dan cacat sebagaimana terdapat pada beberapa kitab agama yang lain. Aman dan nyaman dibaca dan didengar oleh semua jenis dan golongan manusia – dari berbagai kalangan, berbagai usia, baik lelaki maupun perempuan.

          Semua issue dan pertanyaan terbesar dalam kehidupan manusia dibahas dengan jelas, seperti: apa tujuan manusia hidup di dunia ini; asal-usul manusia; kemana manusia akan kembali atau pergi setelah mati; asal-usul pertikaian manusia dengan iblis dan setan; hakikat musibah dan nikmat yang manusia dapat di dunia ini; kiamat; hal-hal ghaib semisal akhirat, jin, malaikat, surga, neraka dan sebagainya. Tiada kitab yang begitu detail dan jelas membahas issue dan pertanyaan ini selain Al-Quran.

          Kedua, Al-Quran adalah sumber kebenaran. Pembeda antara yang benar dan yang salah. Petunjuk untuk menjalani hidup.

          Tiadalah air yang paling jernih akan kita dapatkan di pegunungan kecuali dengan berjalan menyusuri aliran sungai menuju sumber air – mata air. Dan Tiadalah kebenaran kan kita dapati dalam hidup ini kecuali menyusuri lintasan-lintasan Wahyu Allah, berjalan menuju sumbernya – Kitab Suci. Dan sungguhlah Al-Quran adalah sebenar-benar kebenaran yang harus diyakini!

          Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar kebenaran yang diyakini. (QS 69:51)

          Al-Quran merupakan kebenaran, diturunkan dengan cara yang benar, dan dijamin kebenarannya, tiada akan bercampur dengan kebatilan sedikitpun!

          Dan Kami turunkan (Al Quran) itu dengan sebenar-benarnya dan Al Quran itu telah turun dengan (membawa) kebenaran. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. (QS 17:105)

          Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. (QS 41:42)

          Pernyataan kebenaran Al-Quran juga ditegaskan dalam QS 16:102, QS 13:1, QS 39:1-2 QS 5:48.

          Al-Quran adalah Petunjuk – Hudaa, petunjuk hidup agar tetap berjalan di jalan yang lurus.

          Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS 27:77)

          Jaminan bahwa Al-Quran merupakan petunjuk diulang kembali dalam QS 17:9, QS 45:11, QS 2:2, QS 7:52, QS 4:174-175, QS 16:89.

          Al-Quran adalah Pedoman – Bashoo-ir, agar dapat hidup di sesuai fitrah. Pedoman terbaik untuk dan terkait sebuah produk adalah pedoman yang dikeluarkan oleh produsennya. Maka pedoman terbaik bagi manusia tentulah Wahyu Allah yang terkodifikasi dengan baik dalam Kitab-Nya, Al-Quran.

          Al Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini. (QS 45:20)

          ….Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelas an mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)…. (QS 2:185)

          Al-Quran adalah Cahaya – Nur. Dengan cahaya itu manusia dikeluarkan dari kegelapan kebodohan (jahiliyah), serta diarahkan untuk berjalan di jalan yang lurus.

          Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (QS 14:1)

          Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus (QS 42:52)

          Al-Quran adalah Pembeda – Furqaan, di dalamnya terdapat pembeda antara yang benar dan yang salah.

          Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang hak dan yang bathil. Dan sekali-kali bukanlah dia senda gurau. (QS 86:13-14)

          ….Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelas an mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)…. (QS 2:185)

          Hanya sedikit (atau tiada?) Kitab yang dengan berani memproklamasikan secara tegas serta berkali-kali bahwa dirinya adalah sumber kebenaran, sumber petunjuk, cahaya yang terang-benderang, serta pembeda antara yang benar dan batil (salah)… Al-Quran belaka yang berani. Silahkan buktikan sendiri! Seperti pepatah Tionghoa kuno, “Emas diuji dengan api!”. Uji dan buktikan sendiri, kelak kita kan temukan mana yang `Emas` dan mana yang `kuningan` dari Kitab-kitab ini.

          Ketiga, Al-Quran adalah sumber rahmat. Sumber keberkahan. Penawar dan penyembuh penyakit manusia, terutama penyakit hati – kegelisahan, kekhawatiran, kebingungan, ketakutan. Al-Quran diturunkan bukan untuk membuat susah manusia.

          Sudah menjadi kodrat dan fitrah manusia untuk selalu mencari sumber rahmat dan keberkahan, yang dapat menawarkan dan menyembuhkan semua penyakit hati, terutama sekali kegelisahan, kekhawatiran, kebingungan dan ketakutan. Semua manusia ingin melepaskan kesusahan, menggapai kemudahan.

          Al-Quranlah sumbernya! Sumber Rahmat! Sumber Berkah!

          Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat. (QS 6:155)

          Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (QS 17:82)

          Dan Al Quran ini adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. Maka mengapakah kamu mengingkarinya? (QS 21:50)

          Berkah dan Rahmat Al-Quran disinggung dalam ayat-ayat berikut: QS 7:52, QS 45:20, QS 31:1-3, QS 16:64, QS 16:89, QS 27:77, QS 12:111, QS 6:92.

          Sedikit pula Kitab yang dengan berani memproklamasikan secara tegas bahwa dirinya adalah sumber rahmat dan berkah bagi mereka – manusia yang berkehendak mengikutinya. Coba dicek, siapa tahu penulis salah! Tapi kalau ternyata pernyataan penulis benar (dan Insya Allah benar), maka kebenaran itu datang dari Allah belaka, bukan dari penulis.

          Yang paling berkesan terkait konteks pernyataan terkait rahmat dan berkah Al-Quran adalah bahwa: turunnya Al-Quran ditegaskan bukan untuk membuat kita merasa susah. Terimalah dengan gembira Firman Allah berikut:

          Thaahaa  : Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susahtetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy (QS 20:1-5)

          Subhanallaah, Alhamdulillaah! Bayangkan salah satu `muallaf idol` – Umar bin Khattab ra. yang terkenal keras wataknya…luluh hatinya mendengar ayat-ayat ini, bergetar hatinya, bergelora jiwanya untuk menyambut `kemudahan` ini – AlQuran. Mengapa kita tidak tergerak jua untuk ikut menyambut `kemudahan` ini?!

          Keempat, Al-Quran pembenar, penggenap dan penguji Kitab terdahulu. Al-Quran menjawab semua hal yang dipertanyakan dan/ataupun yang diperselisihkan manusia, terutama untuk golongan Ahli Kitab – Yahudi dan Kristiani.

          Al-Quran mempunyai keterkaitan mental yang erat dengan para pemeluk agama tertentu, khususnya dari mereka yang diberi gelar Ahli Kitab – Yahudi dan Kristiani.

          Seperti halnya penulis, bagi mereka yang beragama Yahudi dan Kristiani, atau mempunyai latar belakang yang berhubungan dengannya, Al-Quran mempunyai tempat tersendiri di dalam hati dan pikiran mereka.

          Bagi para pemeluk agama tersebut, mereka akan berpikir ada kesamaan, dan juga perbedaan yang mendasar, yang menyatukan, dan yang memisahkan…antara agama mereka dengan Islam, antara Kitab Suci mereka dengan Al-Quran.

          Bisa jadi dengan hal ini mereka berpikir bahwa Islam adalah agama penggenap ajaran Kitab Suci mereka, menjelaskan beberapa hal yang mengganjal, yang menjadi `polemik abadi` dalam sejarah agama mereka.

          Tetapi bisa jadi dengan hal ini mereka berpikir bahwa Islamlah agama palsu, agama Batil, penjiplak Kitab Suci mereka. Bahkan boleh jadi dalam benak mereka… Islam dan Al-Quran harus diperangi dan dilenyapkan.

          Apapun pemikiran dan pendirian mereka, yang jelas mereka tak akan lepas dari `kuasa dan jeratan` Al-Quran.

          Tak heran dari golongan Yahudi dan Kristianilah – mayoritas muallaf yang kembali kepada Islam. Tak heran jua, mayoritas golongan Yahudi terutama, serta sebagian golongan Kristiani – mereka itu merupakan salah satu golongan yang mempunyai sejarah panjang konflik dengan Islam.

          Lantas, bagaimana Al-Quran memandang dirinya terhadap agama terdahulu – Yahudi dan Kristiani, khususnya Kitab Suci mereka?

          Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan- Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (QS 5:48)

          Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS 16:64)

          Status Al-Quran terhadap Kitab-kitab terdahulu juga dinyatakan dalam QS 27:76-79, QS 6:92, QS 3:3-4, QS 35:31, QS 10:37, QS 12:111.

          Kebenaran sebuah ajaran – khususnya Kitab, bukan diklaim dari umurnya, tetapi dari kesempurnaannya, konsistensi isinya – tidak saling bertentangan, serta mampunya menjawab pertanyaan dan tantangan yang lintas zaman, dan lintas latar belakang, termasuk lintas budaya. Itulah Al-Quran!!

          Bahkan Al-Quran merupakan validator terhadap isi Kitab-kitab lain, serta juga penggenap dan penyempurna kebenaran yang terhadap kebenaran yang telah terkandung dalam Kitab-kitab lain.

          Maka sebuah kewajaran bagi para pemeluk Yahudi dan Kristiani untuk mempelajari Al-Quran yang memang mempunyai keterkaitan mental yang erat dengan mereka.

          Demikianlah penulis menjelaskan sebagian alasan-alasan yang Al-Quran kemukakan untuk meyakinkan kita para muallaf agar memulai dengan membaca Al-Quran, bukan yang lain.

          Maka janganlah kita ragu, mari kita mulai membaca Al-Quran untuk mendapatkan jawaban dari segala pertanyaan dan kegelisahan kita!

          Jika kita ingin mengetahui tentang: Islam, Jalan Lurus, Kebenaran Hakiki, Keselamatan Sejati, dan sejenisnya – maka Al-Quranlah sumbernya!! Jika kita ingin mengetahui penjelasan dan jawaban terkait issue dan pertanyaan besar dalam hidup kita, maka Al-Quranlah pilihannya!! !

          Kenapa? Mengapa? Karena Al-Quran sungguh menakjubkan! Sempurna! Tiada Banding! Tiada Cacat! Dimudahkan untuk dipelajari dan dipahami manusia! Penuh hikmah, perumpamaan, dan kisah-kisah yang mendidik manusia! Sumber Kebenaran, Petunjuk, Pedoman, Cahaya, dan Pembeda antara yang benar dan batil! Sumber Rahmat dan Berkah! Diturunkan bukan untuk menyusahkan manusia!

          Pembenar, Penggenap, Penguji Kitab-kitab terdahulu! Penjawab semua hal yang diperselisihkan dan dipertanyakan manusia secara prinsipil!

          Jika kita masih ragu, sesungguhnya Allah telah menegaskan bahwa pada akhirnya keputusan di tangan kita, tiada paksaan, namun sadarilah konsekuensi yang kita dapat sebagai akibat dari keputusan yang kita ambil.

          Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka. (QS 39:41)

          Renungkan pula QS 2:256, dan QS 10:108-109.

          Jika kita ragu akan kebenaran Al-Quran dalam menjawab semua pertanyaan dan kegelisahan kita, sungguh kelak kita akan melihat kebenaran kemampuan Al-Quran menjawab perihal tersebut.

          Katakanlah: “Bagaimana pendapatmu jika (Al Quran) itu datang dari sisi Allah, kemudian kamu mengingkarinya. Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang selalu berada dalam penyimpangan yang jauh?”

          Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (QS 41:52-53)

          Al Quran ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita Al Quran setelah beberapa waktu lagi (QS 38:87)

          Mari mulai, jalani, dan selesaikan.. . dengan Al-Quran!!! Berdasarkan Al-Quran!!!

          Dari Muallaf, Oleh Muallaf, Untuk Muallaf

          Dan seperti ucapan sahabat ‘Abdullah ibnu Mas’ud ra., penulis pun mengikutinya: Ini adalah pendapat dan curahan hati penulis semata. Jika benar, maka itu dari petunjuk Allah swt.Jika salah, maka itu dari diriku dan dari bisikan setan, sedangkan Allah swt dan Rasulullah saw bebas dari padanya. (http://nugon19. blogs.friendster .com/my_blog/
          http://nugon19. multiply. com/journal)

          Dipublikasi di Tausiyah | Meninggalkan komentar

          Pencuri Sholat

          Abdullah bin Kathir menceritakan kisah Hajjaj bin Yusuf ketika masa
          remajanya, sebelum beliau terkenal dan memegang jabatan apa-apa . Hajjaj
          pernah solat di samping Said bin Al-Musayyib di Madinah. Hajjaj selalu
          tergopoh gapah dalam solatnya, sehingga dia bangun dari ruku’ sebelum imam
          bersujud dan bangun ketika imam masih sujud. Sebaik saja solat selesai,
          Hajjaj telah bergerak untuk bangun, tapi Said bin Al-Musayyib segera
          menjerat lehernya dengan kain sorbanya. Hajjaj meronta untuk beredar, tapi
          Said terus menahannya sambil berzikir. Jadilah Hajjaj seperti kambing yang
          sedang ditambat, tidak dapat lari.

          Setelah selesai wirid, Said memandang muka Hajjaj sambil berkata: “Wahai
          pencuri (dalam solat), wahai pengkhianat! Engkau mengerjakan solat semberono
          seperti itu? Aku tampar muka engkau dengan sorban ini, baru tahu!”

          Hajjaj tidak menjawab, dia meninggal diri masjid dan terus pergi ke Makkah
          untuk mengerjakan ibadah haji. Beberapa tahun kemudian, Hajjaj dapat
          memegang jabatan tinggi dan terkenal sebagai penguasa tegas dan keras.
          Hajjaj berulang alik ke Madiah setelah mengalahkan dan membunuh Abdullah bin
          Zubair dalam suatu peperangan di sekitar Masjidil Haram, Makkah. Suatu hari,
          dia melihat Said Al-Musayyib sedang mengajar di majlisnya, lalu meluru ke
          dalam dan duduk di samping ulama Tabiin itu. Pada mulanya orang-orang yang
          hadir di majlis itu merasa khuatir pahlawan kejam itu akan mengganggu
          al-Musayyib.

          “Engkau yang mengajar di sini? tanya Hajjaj.

          “Ya, saya,” jawab Al-Musayyib sambil menepuk dadanya.

          “Saya mengucapkan banyak-banyak terimakasih atas teguranmu dahulu itu.
          Selepas itu, setiap saya mengerjakan solat, selalu teringat kepadamu.” kata
          Hajjaj kemudian pergi.

          Dipublikasi di Celoteh | Meninggalkan komentar